Selasa, 14 April 2015

Spesifikasi Canon 650d

Menariknya Canon EOS 650D dibekali dengan layar sentuh, hal ini tentunya akan memberikan pengalaman tersendiri bagi kita saat menggunakan kamera. Walaupun layar sentuh sudah jadi bagian dari perangkat canggih seperti smartphone, kamera saku, dan kamera compact. Tapi belum pada kamera jenis DSLR, jadi bisa dikatakan bahwa Canon EOS 650D merupakan DSLR pertama yang memiliki fitur satu ini.

Fitur Hybrid AF

Seperti pada Canon EOS 600D, saat menggunakan modus reflek Canon EOS 650D dapat mendeteksi 9 titik autofokus. Dengan fitur ini pengambilan gambar dapat dilakukan lebih cepat dalam mendeteksi obyek. Berkat Hybrid AF, ketika menggunakan fitur Live View dan Modus video secara otomatis mampu melakukan autofokus terus menerus

Tambahan modus baru

Canon juga memperkenalkan modus baru pengambilan foto pada Canon EOS 650D yaitu Handheld Night Scene dan HDR Backlight Control. Modus tersebut menggabungkan beberapa foto untuk menghasilkan gambar lebih berkualitas.

Video

Kemampuan merekam videonya mencapai 1920 x 1080 Full HD, suara yang masuk stereo, dan juga ada jack untuk menggubungkan mic eksternal. Saat merekam kita juga dapat menggunakan modus snapshot.

Dalam hal bentuk dan ukuran sebenar tidak ada perubahan yang significan dari Canon EOS 600D hanya ada beberapa perubahan pada tombol. Bodi luar bertekstur seperti kulit jeruk membantu kita untuk merasa aman saat menggenggam. Kalau biasanya kita menjumpai tombol video berada sendirian kini tidak lagi, Canon menggabungkan saklar on/off dan video menjadi satu arah.

Harga Canon EOS 650D

Harga yang ditawarkan oleh canon untuk Body saja seharga £ 699,99 atau sekitar $ 1,085 sedangkan untuk body dan lensa kit EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS II seharga £ 799,99 (sekitar $ 1,238).

Tips Foto Low Light

Banyak yang penasaran bagaimana cara terbaik untuk memotret saat low light alias kondisi minim cahaya. Hal ini selalu menjadi topik yang menarik karena banyak yang kecewa saat melihat foto yang dibuatnya tampak blur atau malah noise parah sehingga tak layak dinikmati. Kondisi low light sendiri dijumpai pada banyak tempat dan waktu seperti di dalam ruangan, dan di sore hari terutama saat menjelang senja. Low light bukan berarti gelap, karena saat gelap mata anda tidak bisa melihat apa pun (demikian juga dengan kamera anda). Low light itu adalah saat mata kita masih bisa melihat obyek dengan baik (dengan pencahayaan yang ada) namun intensitas cahayanya terlalu rendah untuk kamera bisa menggunakan speed tinggi.
Jadi kuncinya disini adalah kamera perlu waktu yang cukup untuk mendapat eksposur yang tepat saat low light. Waktu yang diperlukan bervariasi tergantung intensitas cahaya yang ada, bisa 1/20 detik bahkan bisa hingga 1 detik. Inilah nilai shutter speed yang rentan terhadap goyangan yang berpotensi menjadikan foto anda blur. Maka itu inilah tips kami saat menghadapi kondisi low light :

Perbaiki kondisi pencahayaan
Paling utama bila anda bisa lakukan adalah perbaiki dulu kondisi pencahayaan sekitar. Inilah hal sepele yang kadang terlupakan, saat di dalam rumah misalnya. Bisa jadi anda memaksakan memotret namun lupa menyalakan semua lampu yang ada di rumah. Memang lampu rumah tidak terlalu berdampak besar buat menaikkan kecepatan shutter kamera, tapi setidaknya mampu memberi penerangan pada obyek yang akan difoto kan?  Bila bisa menambahkan lampu sorot (seperti pada saat resepsi pernikahan) maka anda bisa merubah kondisi low light menjadi kondisi yang lebih terang. Prinsipnya selagi masih bisa memotret dalam kondisi cahaya cukup, mengapa tidak?

Gunakan bukaan besar
Kendali banyaknya cahaya yang masuk ke lensa adalah aperture dan ini bisa diatur untuk membesar (f kecil) dan mengecil (f besar). Kenali dulu berapa bukaan maksimal lensa yang anda pakai, apakah f/1.8 atau f/3.5 misalnya. Bila lensa anda memiliki bukaan maksimal f/3.5 maka hindari memakai bukaan yang lebih kecil seperti f/5.6 atau f/8. Prinsipnya hindari memakai bukaan lensa kecil sehingga kamera bisa memakai shutter yang lebih cepat.
Tips tambahan yang berkaitan dengan aperture / bukaan lensa diantaranya :
  • bila anda memakai DSLR, ingatlah kalau lensa prime punya bukaan lebih besar dari lensa zoom, maka bila anda akan memotret low lightuntuk event penting usahakan memakai lensa prime (fix) atau kalau memakai lensa zoom pakailah lensa zoom bukaan konstan yang besar (f/2.8)
  • bila anda memakai lensa zoom berjenis variable aperture (bukaan maksimalnya akan semakin mengecil bila lensa di zoom) hindari memakai zoom tinggi saat memotret low light (gunakan fokal terpendek dari lensa zoom) misal anda memakai lensa 70-300mm maka gunakan saja posisi fokal 70mm saat low light guna mendapat bukaan maksimalnya

Aktifkan fitur Image Stabilizer
Image Stabilizer (IS) pada lensa Canon
Image Stabilizer (IS)
Fitur stabilizer berfungsi meredam getaran tangan saat memotret dengan kecepatan rendah, sehingga foto yang dihasilkan tetap tajam. Pada kondisilow light dengan kecepatan shutter yang tidak terlalu rendah (hingga 1/8 detik) penggunaan fitur stabilizer ini masih bisa diandalkan. Setidaknya bluryang terjadi akibat getaran tangan saat memotret bisa diredam dan foto yang dihasilkan saat low light bisa tetap tajam. Periksa kembali kamera dan lensa anda, pastikan fitur ini sudah diaktifkan. Sebagai info, fitur stabilizerini tidak bisa meredam blur akibat gerakan obyek yang difoto (motion blur). Untuk mengatasi motion blur, baca tips selanjutnya yaitu menaikkan ISO.

Naikkan ISO secara bijaksana
ISO artinya sensitivitas sensor, semakin tinggi ISO semakin sensitif sensor terhadap cahaya. Dengan menaikkan nilai ISO dua kali lipat anda mendapat keuntungan bisa memakai shutter speed dua kali lebih cepat. Bila memakai ISO 100 kamera anda menunjukkan speed 1/20 detik, menaikkan ke ISO 200 akan membuat kamera anda bisa memakai speed 1/40 detik. Inilah mengapa menaikkan ISO menjadi harapan banyak orang saat low light.
Menaikkan ISO membawa implikasi naiknya noise pada foto. Kenali bagaimana noise yang dihasilkan kamera anda saat ISO dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi, setidaknya di ISO 800 dan ISO 1600. Kamera modern dengan algoritma noise reduction modern masih memberi foto yang baik di ISO 800 dan jadikanlah nilai ISO ini sebagai ISO yang berimbang antara shutter yang lebih cepat dengan kualitas foto yang masih bisa diterima. Bila ISO 800 pun kurang mencukupi, dan anda perlu memakai ISO 1600, putuskan secara bijak. Prinsip memakai ISO tinggi adalah lebih baik memiliki foto yang noise daripada tidak mendapat foto sama sekali.

Perhatikan contoh kasus berikut. Suatu sore saat saya main ke kebun binatang, kondisi sudah cukup gelap sehingga saya memakai ISO 800. Saya ingin memotret obyek yang menarik ini, sayangnya kebetulan dia tidak bisa diam. Memang saya sudah mengatifkan fitur stabilizer yang membuat foto tetap tajam meski memakai speed lambat, tampak dari dedaunan yang tampak tajam. Sayangnya gerakan obyek ini membuat dia menjadi blur saat difoto atau motion blur dan kasus ini hanya bisa diatasi dengan memakai shutter yang lebih cepat. Karena saya sudah memakai bukaan lensa maksimal, maka pilihan terakhir adalah dengan menaikkan ke ISO 1600, sehingga saya bisa mendapat kecepatan shutter yang lebih tinggi meski resiko noise lebih tampak dalam foto.

Portable hard disk untuk backup foto

Kapasitas dan kenyamanan telah mengesampingkan media optik tradisional bagi saya . CD dan DVD yang besar, tetapi koleksi foto besar akan memerlukan beberapa , dan aku tidak bisa diganggu membuat kompilasi disk baru setiap kali saya ingin membuat cadangan , atau harus menunggu sekitar untuk masing-masing untuk menyelesaikan sebelum memulai pada berikutnya . Selain itu, saya juga menemukan media yang buruk dicatat atau cakram disimpan dalam waktu kurang dari kondisi optimum dapat memiliki rak-hidup mengkhawatirkan pendek .

Apa yang saya setelah merupakan media backup yang cukup besar untuk menelan koleksi saya dalam satu pergi dan dalam waktu sesingkat mungkin . Hari ini hanya ada satu teknologi yang sesuai tagihan , dan itu hard disk lain . Tentu saja hal ini akan menderita masalah keandalan yang sama seperti hard disk utama Anda , tapi sekali lagi , tidak ada media perekam yang sempurna . Setidaknya dengan hard disk saya bisa mendapatkan seluruh koleksi saya dengan cepat didukung -up di satu tempat , yang berarti aku lebih cenderung untuk melakukan proses secara teratur .




Sementara standar 3.5in hard disk bekerja di hampir setiap PC merupakan kombinasi terbaik dari kapasitas , kinerja dan nilai , saya pribadi lebih suka menggunakan laptop yang lebih kecil 2.5in hard disk untuk keperluan backup . Mereka mungkin lebih mahal dan memiliki kapasitas yang lebih rendah , tapi mereka lebih kecil , lebih ringan , dan sekali dipasang ke kasus portabel kompak , dapat didukung oleh port USB saja . Oleh karena itu, satu kabel adalah semua yang Anda perlukan untuk daya dan transfer data . Standar 3.5in hard disk juga dapat dipasang ke dalam kandang portabel , tetapi ukuran mereka lebih besar dan kebutuhan dari adaptor daya listrik membuat mereka jauh lebih nyaman .

The portable hard disk terbaik saat ini adalah My Passport Essential SE Western Digital , yang bungkus drive mengejutkan besar menjadi kecil , tapi indah terbentuk kasus , dan hanya didukung oleh , kabel USB tunggal, model terbaru ini juga mendukung USB 3 port untuk kecepatan ekstra , meskipun semua yang mundur - kompatibel dengan port USB yang lebih tua .




Apapun solusi cadangan Anda pergi untuk , portabilitas merupakan kebutuhan penting . Setelah semua , sementara itu juga cepat dan mudah untuk backup data Anda ke PC lain melalui jaringan , jika itu terletak di ruangan yang sama atau bangunan , itu sama-sama rentan terhadap kebakaran , banjir atau pencurian . Dan karena itu sangat tidak mungkin seorang pencuri atau bencana alam akan cukup perhatian untuk meninggalkan salah satu dari PC Anda utuh , itu penting untuk menjaga cadangan di lokasi fisik yang berbeda .

Ini adalah mengapa saya membawa hard disk portabel saya cukup banyak di mana-mana aku pergi , dan copy folder baru foto ke atasnya setelah setiap perjalanan atau menembak . Sekali lagi , Anda tidak pernah dapat sepenuhnya dilindungi , tetapi penting untuk memahami kerentanan gambar digital dan masuk ke dalam kebiasaan melindungi mereka .

Backing - up mungkin tidak menjadi topik paling seksi , tetapi sekali Anda telah kehilangan beberapa foto favorit Anda selamanya , Anda akan segera menyadari pentingnya. Tentu saya berharap apa yang saya pelajari sebagai kolumnis reguler dan mantan Editor majalah Personal Computer Dunia akan membantu memastikan foto Anda baik - dilindungi .

Senin, 13 April 2015

Pengertian Tentang Aperture/ Diafragma Fotografi


Apa itu Aperture ?
Masukan paling sederhana - Aperture adalah ' ukuran lubang di lensa saat gambar diambil . "

Ketika Anda menekan tombol pelepas rana kamera Anda lubang membuka yang memungkinkan kamera Anda sensor gambar untuk melihat sekilas dari adegan Anda ingin menangkap . Aperture bahwa Anda menetapkan dampak ukuran lubang itu . Semakin besar lubang lebih banyak cahaya yang mendapat di - semakin kecil lubang kurang cahaya .

Aperture diukur dalam ' f-stop ' . Anda akan sering melihat mereka disebut di sini di Digital Photography School sebagai f / number - misalnya f/2.8 , f / 4 , f/5.6 , f / 8 , f/22 dll Pindah dari satu f -stop ke depan ganda atau bagian ukuran jumlah pembukaan di lensa Anda ( dan jumlah cahaya yang masuk melalui) . Perlu diingat bahwa perubahan kecepatan rana dari satu atap untuk ganda berikutnya atau membagi dua jumlah cahaya yang mendapat di juga - ini berarti jika Anda meningkatkan satu dan menurunkan lain Anda membiarkan jumlah cahaya yang sama di - sangat berguna untuk menjaga dalam pikiran ) .

Satu hal yang menyebabkan banyak fotografer baru kebingungan adalah bahwa lubang besar ( di mana banyak cahaya akan melalui ) diberikan f / stop nomor yang lebih kecil dan lubang kecil ( di mana kurang cahaya akan melalui ) memiliki besar nomor f -stop . Jadi f/2.8 sebenarnya aperture yang jauh lebih besar dari f/22 . Tampaknya dengan cara yang salah di sekitar ketika Anda pertama kali mendengarnya , tapi Anda akan mendapatkan menguasainya .



Depth of Field dan Aperture

Ada sejumlah hasil mengubah aperture tembakan Anda bahwa Anda akan ingin diingat ketika Anda mempertimbangkan pengaturan Anda, tetapi yang paling nyata akan kedalaman lapangan yang ditembak Anda akan memiliki .

Depth of Field ( DOF ) adalah bahwa jumlah tembakan Anda yang akan menjadi fokus . Kedalaman besar lapangan berarti bahwa sebagian besar gambar Anda akan menjadi fokus apakah itu dekat dengan kamera Anda atau jauh ( seperti gambar di sebelah kiri di mana kedua latar depan dan latar belakang sebagian besar fokus - diambil dengan ukuran lobang f/22 ) .

Kecil ( atau dangkal ) kedalaman lapangan berarti bahwa hanya bagian dari gambar akan menjadi fokus dan sisanya akan kabur ( seperti di bunga di bagian atas posting ini ( klik untuk memperbesar ) . Anda akan melihat di dalamnya bahwa ujung kuning batang berada dalam fokus , tetapi meskipun mereka hanya 1cm atau lebih di belakang mereka bahwa kelopak berada di luar fokus . ini adalah kedalaman yang sangat dangkal lapangan dan dibawa dengan ukuran lobang f/4.5 ) .

Aperture memiliki dampak besar pada kedalaman lapangan . Aperture besar ( ingat itu jumlah yang lebih kecil ) akan menurun kedalaman lapangan sedangkan aperture kecil ( angka yang lebih besar ) akan memberikan kedalaman lebih besar dari lapangan .

Hal ini dapat sedikit membingungkan pada awalnya, tetapi dengan cara yang saya ingat adalah bahwa sejumlah kecil berarti DOF kecil dan jumlah besar berarti besar DOF .

Apa itu Shutter Speed



Shutter -speed sebelumnya saya telah memperkenalkan konsep Exposure Segitiga sebagai cara berpikir tentang keluar dari Auto Mode dan mengeksplorasi ide menyesuaikan eksposur gambar Anda secara manual .
Tiga bidang utama yang dapat anda sesuaikan adalah ISO , Aperture dan kecepatan rana . Saya sebelumnya telah melihat membuat penyesuaian terhadap ISO dan sekarang ingin mengalihkan perhatian kita untuk kecepatan rana .

Apa Shutter Speed ​​?
Seperti yang saya sudah menulis di tempat lain , pasti yang paling dasarnya - kecepatan rana adalah ' jumlah waktu yang rana terbuka.

Dalam film fotografi itu lamanya waktu bahwa film itu terkena adegan Anda memotret dan juga dalam kecepatan rana fotografi digital adalah lamanya waktu yang sensor gambar Anda ' melihat ' adegan Anda mencoba untuk menangkap .

Biarkan aku mencoba untuk memecah topik " Shutter Speed ​​" menjadi beberapa potongan gigitan-ukuran yang akan membantu pemilik kamera digital mencoba untuk mendapatkan kepala mereka di sekitar kecepatan rana 


Cepat - Shutter Speed ​​-

Kecepatan rana diukur dalam hitungan detik - atau dalam banyak kasus pecahan detik . Semakin besar penyebut semakin cepat kecepatan (yaitu 1/1000 jauh lebih cepat dari 1/ 30) .
Dalam kebanyakan kasus, Anda mungkin akan menggunakan kecepatan rana 1/60th per detik atau lebih cepat . Hal ini karena sesuatu yang lebih lambat dari ini sangat sulit untuk digunakan tanpa mendapatkan kamera goyang . Guncangan kamera adalah ketika kamera Anda bergerak saat shutter terbuka dan menghasilkan blur pada foto Anda .

Jika Anda menggunakan kecepatan rana lambat ( sesuatu yang lebih lambat dari 1/60 ), Anda akan perlu untuk menggunakan tripod atau beberapa jenis stabilisasi gambar ( semakin banyak kamera yang datang dengan built in) .
Kecepatan rana yang tersedia bagi Anda pada kamera Anda biasanya akan berlipat ganda ( kurang-lebih) dengan masing-masing pengaturan . Akibatnya Anda biasanya akan memiliki pilihan untuk kecepatan rana berikut - 1/500 , 1/250 , 1/125 , 1/60 , 1/30 , 1/15 , 1/8 dll Ini ' penggandaan ' adalah berguna untuk diingat sebagai pengaturan aperture juga dua kali lipat jumlah cahaya yang membiarkan - sebagai hasilnya meningkatkan kecepatan rana dengan one stop dan penurunan aperture oleh one stop harus memberikan tingkat eksposur yang sama ( tapi kita akan berbicara lebih banyak tentang hal ini dalam posting masa depan).

Beberapa kamera juga memberikan pilihan untuk kecepatan rana yang sangat lambat yang tidak pecahan detik tetapi diukur dalam detik ( misalnya 1 detik , 10 detik , 30 detik dll ) . Ini digunakan dalam situasi cahaya yang sangat rendah , ketika Anda akan setelah efek khusus dan / atau ketika Anda mencoba untuk menangkap banyak gerakan di tembakan . Beberapa kamera juga memberikan pilihan untuk menembak di ' B ' ( atau ' Bulb ' ) mode. Mode Bulb memungkinkan Anda menyimpan rana terbuka untuk selama Anda terus ke bawah .

Ketika mempertimbangkan apa kecepatan rana untuk digunakan dalam gambar Anda harus selalu bertanya pada diri sendiri apakah sesuatu dalam adegan Anda bergerak dan bagaimana Anda ingin menangkap gerakan itu. Jika ada gerakan dalam adegan Anda, Anda memiliki pilihan baik pembekuan gerakan ( sehingga terlihat masih ) atau membiarkan benda bergerak sengaja blur ( memberikan rasa gerakan ) .
Untuk membekukan gerakan dalam gambar ( seperti dalam berselancar ditembak di atas ), Anda akan ingin memilih kecepatan rana yang lebih cepat dan membiarkan blur gerakan Anda akan ingin memilih kecepatan rana lebih lambat . Kecepatan yang sebenarnya Anda harus memilih akan bervariasi tergantung pada kecepatan subjek dalam tembakan Anda dan seberapa banyak Anda ingin menjadi kabur.

Pengertian Tentang ISO dalam Fotografi



Apa itu ISO ?
Dalam tradisional ( film) fotografi ISO ( atau ASA ) adalah indikasi seberapa sensitif film adalah cahaya . Ini diukur dalam jumlah ( Anda mungkin pernah melihat mereka di film - 100 , 200 , 400 , 800 dll ) . Semakin rendah angkanya semakin rendah sensitivitas film dan halus butir dalam gambar Anda mengambil .


Dalam Fotografi Digital ISO mengukur sensitivitas dari sensor gambar . Prinsip yang sama berlaku seperti dalam film fotografi - semakin rendah nomor kamera Anda kurang sensitif terhadap cahaya dan halus gandum .

Pengaturan ISO yang lebih tinggi biasanya digunakan dalam situasi lebih gelap untuk mendapatkan kecepatan rana yang lebih cepat . Misalnya acara olahraga dalam ruangan ketika Anda ingin membekukan tindakan dalam cahaya rendah . Namun semakin tinggi ISO yang Anda memilih ribut tembakan Anda akan mendapatkan . Saya akan menggambarkan ini di bawah dengan dua pembesaran tembakan yang saya hanya mengambil - satu di sebelah kiri diambil pada 100 ISO dan salah satu hak pada 3200 ISO ( klik untuk memperbesar untuk melihat efek penuh ) .

head-to-head dengan Nikon D4 dan DF


DxOMark telah menganalisis sensor Nikon D4S baru, dan hasilnya tidak benar-benar mengejutkan. Karena kamera ini lebih dari update ke D4 bukan pengganti penuh, kita tidak benar-benar mengharapkan D4S mengungguli D4 oleh margin yang signifikan. Dan memang, ini adalah apa yang pengukuran DxOMark yang konfirmasi. Sementara D4S memiliki performa keseluruhan sedikit lebih baik pada ISO 3200 ke atas, D4 melakukan sama dengan baik jika tidak takik sedikit lebih baik pada ISO yang lebih rendah ketika datang ke dynamic range, tonal range dan sensitivitas warna. Hal yang sama berlaku untuk Nikon Df.



Nikon D4s vs D4 vs Df DxOMark

Membandingkan D4S ke pesaing utamanya dari Canon, 1D X, mengungkapkan betapa jauh lebih baik teknologi Nikon melakukan. Maaf, fanboys Canon, tapi merek pilihan Anda kehilangan putaran ini. The D4S melebihi 1D X dalam semua hal, dan dengan margin yang signifikan, juga. The D4S memiliki sekitar 1,5 berhenti rentang yang lebih baik dinamis di dasar ISO dan tetap menjelang Canon sampai ISO 1600. Sedangkan signal-to-noise ratio dan tonal range yang cukup banyak sama untuk kedua kamera, D4S lagi melebihi 1D X signifikan di departemen sensitivitas warna, dengan kinerja yang lebih baik pada semua nilai ISO.

Memahami ISO , Shutter Speed ​​dan Aperture

Sulit untuk mengambil gambar yang bagus tanpa pemahaman yang kuat tentang ISO , Shutter Speed ​​dan Aperture - Tiga Raja Fotografi , juga dikenal sebagai " Segitiga Exposure " . Sementara kebanyakan DSLR baru memiliki " Auto " mode yang secara otomatis memilih kecepatan rana yang tepat , aperture dan bahkan ISO untuk eksposur Anda , menggunakan mode Auto menempatkan batas pada apa yang dapat Anda capai dengan kamera Anda . Dalam banyak kasus , kamera harus menebak apa eksposur yang tepat harus dengan mengevaluasi jumlah cahaya yang melewati lensa . Benar-benar memahami bagaimana ISO , kecepatan rana dan aperture bekerja sama memungkinkan fotografer untuk sepenuhnya mengambil alih situasi secara manual mengontrol kamera . Mengetahui bagaimana untuk menyesuaikan pengaturan kamera bila diperlukan , membantu untuk mendapatkan yang terbaik dari kamera Anda dan mendorong ke batas-batasnya untuk mengambil foto besar.

Mari kita cepat meninjau ringkasan Exposure Segitiga sebagai penyegaran :
ISO - tingkat sensitivitas kamera terhadap cahaya yang tersedia . Hal ini biasanya diukur dalam angka, angka yang lebih rendah mewakili sensitivitas lebih rendah terhadap cahaya yang tersedia , sedangkan angka yang lebih tinggi berarti lebih banyak sensitivitas . Lebih sensitivitas datang pada biaya meskipun , dengan meningkatnya ISO , demikian juga butir / noise pada gambar . Contoh ISO : 100 , 200 , 400 , 800 , 1600.
Shutter Speed ​​- lamanya waktu rana kamera terbuka untuk mengekspos cahaya ke sensor kamera . Kecepatan rana biasanya diukur dalam sepersekian detik , ketika mereka berada di bawah kedua . Kecepatan rana lambat memungkinkan lebih banyak cahaya ke sensor kamera dan digunakan untuk cahaya rendah dan fotografi malam , sementara kecepatan rana yang cepat membantu untuk membekukan gerak . Contoh kecepatan rana : 1/15 ( 1/15th per detik) , 1/30 , 1/60 , 1/125 .
Aperture - lubang dalam lensa , melalui mana cahaya perjalanan ke dalam tubuh kamera . Semakin besar lubang , semakin banyak cahaya lolos ke sensor kamera . Aperture juga mengontrol kedalaman lapangan, yang merupakan bagian dari sebuah adegan yang tampaknya tajam . Jika aperture yang sangat kecil , kedalaman lapangan besar , sedangkan jika aperture yang besar , kedalaman lapangan kecil . Dalam fotografi , aperture biasanya dinyatakan dalam jumlah " f " ( juga dikenal sebagai " focal ratio " , karena f -number adalah rasio diameter aperture lensa dengan panjang lensa ) . Contoh f - angka adalah : f/1.4 , f/2.0 , f/2.8 , f/4.0 , f/5.6 , f/8.0 .

1 ) Bagaimana Shutter Speed ​​, Aperture dan ISO bekerja sama untuk menciptakan eksposur ?
Untuk memiliki pemahaman yang baik tentang eksposur dan bagaimana kecepatan shutter , aperture dan ISO mempengaruhi itu , kita perlu memahami apa yang terjadi di dalam kamera saat gambar diambil .
Ketika Anda mengarahkan kamera Anda di subjek dan tekan tombol shutter , subjek masuk ke lensa kamera Anda dalam bentuk cahaya . Jika subyek remang , ada banyak cahaya yang bergerak ke lensa , sedangkan jika Anda mengambil gambar di lingkungan yang redup , tidak ada banyak cahaya yang bergerak ke arah lensa . Ketika cahaya memasuki lensa , melewati berbagai elemen optik terbuat dari kaca , kemudian pergi melalui lensa " Aperture " ( sebuah lubang di dalam lensa yang dapat berubah dari kecil ke besar ) . Setelah cahaya berjalan melewati bukaan lensa , maka hits tirai rana , yang seperti sebuah jendela yang ditutup sepanjang waktu , tetapi akan terbuka bila diperlukan . Shutter kemudian membuka dalam hitungan milidetik , membiarkan cahaya memukul sensor kamera untuk jumlah waktu tertentu . Ini jumlah waktu tertentu disebut " Shutter Speed ​​" dan itu bisa sangat pendek (hingga 1/8000 detik ) atau panjang (sampai 30 detik ) . Sensor kemudian mengumpulkan cahaya , berdasarkan sensitivitas yang telah ditentukan , juga dikenal sebagai " ISO " . Kemudian rana menutup dan cahaya benar-benar diblokir dari mencapai sensor kamera .
Untuk mendapatkan gambar yang benar terkena , sehingga tidak terlalu terang atau terlalu gelap , Shutter Speed ​​, Aperture dan ISO perlu bermain bersama . Ketika banyak cahaya memasuki lensa ( katakanlah itu adalah siang hari bolong dengan banyak sinar matahari ) , apa yang terjadi ketika lensa aperture / lubang sangat kecil ? Banyak cahaya akan diblokir . Ini berarti bahwa sensor kamera akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan cahaya . Apa yang harus terjadi untuk sensor untuk mengumpulkan jumlah yang tepat cahaya ? Itu benar , shutter perlu tetap terbuka lebih lama . Jadi, dengan bukaan lensa yang sangat kecil , kita akan membutuhkan lebih banyak waktu , yaitu kecepatan rana lebih lama untuk sensor untuk mengumpulkan cukup cahaya untuk menghasilkan gambar yang benar terkena .

Spesifikasi Nikon 5100

Nikon telah merilis sebuah produk terbarunya pada hari Senin kemarin yaitu Nikon D5100. Kamera Nikon D5100 diketahui memiliki sensor 16.2 megapixel serta layar LCD dapat diatur, auto focus-continuous dalam mode film, ISO maksimum 25.600, dan mode Efek Khusus baru dengan empat filter yang bekerja baik untuk pengambilan gambar diam maupun video/film.

Nikon D5100 merupakan seri terbaru dari D5000 yang menjadi kamera DSLR Nikon pertama dengan layar LCD lipat.

Fitur terbaru di D5100 adalah sebagian besar ditujukan untuk pengguna yang ingin merekam video/film dengan DSLR mereka. Kamera ini mampu menangkap film beresolusi 1080p dan 720p di kecepatan 24 atau 30 fps. Layar LCD berukuran 3-inch, dengan kepadatan 921,000-dot yang bisa membalik keluar dan miring hingga 170 derajat, yang dapat digunakan pada modus film dan Live View. Mode Efek Khusus kamera memberikan pengguna empat filter yang dapat diterapkan untuk film maupun gambar diam: Selective Color, Color Sketch, efek tilt-shift, dan Night Vision, yang meningkatkan ISO ke 102400.

D5100 memiliki kemampuan untuk auto fokus continuous pada mode film- suatu fitur yang memulai debutnya di D3100 itu. Salah satu kelemahan yang diketahui dari fitur ini adalah bahwa ia menghasilkan suara keras yang ditangkap oleh mikrofon di-kamera. Untuk membantu mengatasi masalah ini meskipun dengan biaya tambahan untuk konsumen-Nikon merilis mikrofon eksternal baru yang disebut-ME 1 yang sesuai ke hot shoe mount kamera dan colokan ke port input mic. Hal ini dirancang untuk mengkompensasi sebagian besar dari kebisingan yang diciptakan oleh lensa auto-fokus. Mikrofon ME-1 akan dijual secara terpisah mulai bulan April dengan harga $ 180.


Berikut fitur dan spesifikasi dari Nikon D5100 :

* sensor CMOS DX 16 MP (crop factor 1.5x)
* ISO normal 100-6400 (can be raised to ISO 25600)
* burst 4 fps
* full HD movie 1080p, 30 fps, AVCHD H.264
* auto focus while recording video
* LCD Vari-angle 3-inch 921 thousand pixels resolution
* finder cov. 95% with a magnification of 0.78 x
* flash sync 1/200 second
* 11 point AF
* 420 pixels RGB
* Quiet shutter mode
* bracketing dan in camera HDR (tidak ada di D3100)
* Expeed 2 (14 bit)

Selasa, 10 Maret 2015

Istilah Lensa Kamera DSLR

agian paling utama dari sebuah sistem pada kamera adalah lensa. Kualitas hasil foto yang dibuat oleh kamera terlebih dahulu ditentukan oleh faktor lensa yang baik, barulah selebihnya diolah oleh sensor dan sistem prosesor gambar pada kamera. Sayangnya saat seseorang menilai baik tidaknya sebuah kamera, faktor lensa justru jadi unsur yang sering terlewatkan, seakan-akan tiap lensa pada kamera adalah sama saja. Seseorang akan lebih cenderung mengejar resolusi yang tinggi, kemampuan ISO tinggi dan sebagainya daripada mencari tahu seberapa baik lensa yang terdapat pada sebuah kamera. Tidak salah memang, karena resolusi adalah faktor yang bisa mengangkat gengsi sebuah kamera, dan jadi hal pertama yang selalu ditanya oleh setiap orang yang melihat kamera kita. Namun setidaknya, dengan mengenal bagaimana lensa yang baik dan apa saja keterbatasannya, kita bisa lebih mengerti kemampuan dari kamera yang kita miliki.
http://dphotomagazine.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2011/10/Canon-8-15mm-Lens-main-670x423.jpg
Fisheye Lens
Berikut adalah istilah-istilah yang sering digunakan saat kita membahas soal lensa pada kamera :
  • Panjang fokal (focal length) : Menentukan bidang gambar yang dapat diambil oleh kamera. Untuk mengambil bidang gambar yang luas dan lebar, lensa yang digunakan adalah lensa wide (dibawah 35mm). Untuk mendapat gambar dengan sudut pandang normal digunakan lensa normal (sekitar 50mm) dan untuk keperluan mengambil gambar yang jauh diperlukan lensa tele (diatas 100mm). Bila lensa hanya memiliki satu jarak fokal saja disebut lensa fix (tetap), sementara bila fokal lensa bisa berubah disebut lensa zoom. Kemampuan zoom lensa diukur dengan membandingkan tele maksimum terhadap wide maksimum, contoh bila lensa zoom dengan spesifikasi panjang fokal wide 28mm dan tele 280mm, maka disebut dengan lensa zoom 10x (atau 280 dibagi 28). 
  • Kecepatan lensa (lens speed) : Tiap lensa memiliki diafragma yang bertugas mengatur banyaknya cahaya yang bisa melewati lensa. Diafragma bisa membesar dan mengecil sesuai nilai aperture yang ditentukan, dinyatakan dengan nilai f. Untuk memudahkan, ingatlah bahwa bukaan besar memiliki nilai f kecil, dan sebaliknya (bukaan kecil punya nilai f besar). Jadi f/3.5 adalah lebih besar dari f/8. Semakin besar bukaan lensa, semakin banyak cahaya yang bisa dimasukkan melalui lensa, dan memungkinkan pemakaian shutter pada kamera yang semakin cepat. Tiap lensa memiliki bukaan maksimum yang berbeda-beda, bisa amat besar (f/1.4) hingga yang lebih kecil (f/4). Oleh karena itu lensa yang memiliki bukaan besar disebut lensa cepat (bisa memakai shutter cepat) dan lensa yang bukaan labih kecil disebut lensa lambat, karena umumnya sering memaksa kamera memakai shutter yang lebih lambat. 
  • Ketajaman lensa (sharpness) : Menjadi faktor penentu dari hasil foto yang baik, biasanya tidak ada ukuran pasti soal ketajaman, namun dengan melihat hasil uji dari review kamera/lensa terhadap test chart, bisa diketahui ketajaman sebuah lensa. Lensa yang baik idealnya haruslah memberi ketajaman yang seragam pada seluruh bidang gambar, baik di tengah ataupun di tepi/sudut. Demikian pula ketajaman pada lensa zoom, idealnya harus tetap tajam baik pada saat wide atapun saat tele maksimum. 
  • Distorsi lensa (lensa distortion) : Adalah suatu fenomena penyimpangan optik yang tidak bisa dihindari karena lensa akan cenderung membengkokkan bidang gambar yang lurus, utamanya saat posisi wide atau tele. Distorsi saat wide biasa disebut barrel distortion (garis lurus menjadi melengkung keluar) dan disaat tele disebut pincushion (garis lurus menjadi melengkung ke dalam). Namun lensa masa kini telah dilengkapi dengan elemen lensa khusus untuk mengurangi cacat lensa yang mungkin terjadi. Istilah lain yang biasa dipakai dalam menilai lensa adalah vignetting, purple fringing, lens flare, dan bokeh. 
Sedangkan yang ini adalah fakta soal lensa : 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_XS_689rEPygQk2x52WNBOvwLJ872i_6aesVpCzG3zOr_N1AQkZGnwtmSQzbIxRNEjxX8Ljb9em56Mp-KOSaJ5H6ZnS_jtTna2-k3UBXnN5dAyeexNg-XQcNVz7n3QuavCGCvdv5I0zM/s1600/Canon+EF+15mm+f2.8+Fisheye+Lens+for+Canon+SLR+Cameras1.png
Fisheye Lens
 
  • Lensa memiliki banyak elemen di dalamnya. Semakin banyak elemen, jalur lintasan cahaya akan makin rumit dan cenderung menurunkan kualitas dan ketajaman lensa. Maka itu tidak ada dalam sejarah lensa zoom bisa menyamai ketajaman lensa fix, karena banyaknya elemen yang dimiliki sebuah lensa zoom.
  • Lensa wide akan selalu mengalami penyimpangan/distorsi. Untuk itu jangan paksakan memakai lensa wide untuk memotret wajah orang, karena nanti akan tampak bulat dan gendut. Juga hindari memakai lensa wide untuk memotret garis yang lurus. 
  • Ketajaman lensa tidak selalu sama. Ketajaman lensa akan berkurang saat diafragma dibuka maksimal atau dikecilkan minimal (efek difraksi lensa). Lensa zoom pun akan mengalami penurunan ketajaman saat dipakai di posisi tele. Untuk mendapat ketajaman terbaik, gunakan panjang fokal wide hingga normal, dan gunakan nilai diafragma tengah-tengah (sweet spot) sekitar f/5.6 hingga f/8. Bagian tengah lensa selalu lebih tajam dari bagian tepi / sudut. Lensa yang baik memiliki ketajaman yang masih lumayan baik di sudutnya, dan lensa yang buruk akan mengalami penurunan ketajaman yang parah di bagian sudutnya, istilahnya corner bluriness. 
  • Bukaan diafragma maksimal pada lensa zoom bisa berubah. Demi menghindari desain lensa yang rumit, kebanyakan lensa zoom memiliki ciri bukaan diafragma maksimal akan berbeda pada panjang fokal yang berbeda. Perhatikan tulisan pada lensa, contohnya lensa 35-105mm f/2.8-4.5 artinya “pada posisi wide 35mm, bukaan maksimalnya adalah f/2.8, sementara pada posisi tele maksimum 105mm, bukaan maksimalnya turun hingga f/4.5“ 
  • Lensa super zoom banyak mengalami kompromi. Awalnya tidak ada lensa yang memiliki rentang fokal ekstrim, yang bisa mengakomodir kebutuhan sangat wide hingga sangat tele dalam sebuah lensa. Namun kebutuhan pasar dan persaingan antar merk akhirnya menjadikan produsen terpaksa membuat lensa yang serba-bisa (sapujagad) hingga saat ini ada kamera yang lensanya 36x zoom. Lensa semacam ini banyak kompromi terhadap kualitas dan ketajaman, demi memenuhi ambisi mendapat rentang fokal yang panjang.

Lensa sapu jagat Dslr

Banyak pilihan fokal lensa untuk wideangle, namun fokal lensa yang cukup berguna adalah 28mm untuk posisi wide. Kini semakin banyak kamera yang memberi fokal lebih wide dari 28mm, misalnya 24mm. Perubahan 'sedikit' dari 28mm ke 24mm membawa perbedaan besar dalam sudut pandang gambar dan perspektif yang dihasilkan, sehingga lensa 24mm lebih berguna saat kita tidak punya banyak ruang untuk memotret. Untuk kamera DSLR dengan sensor APS-C, karena ada faktor koreksi yaitu crop-factor, maka lensa yang setara dengan fokal 28mm adalah lensa 18mm. 

Travel photography cenderung mengutamakan kepraktisan sehingga adakalanya kita hanya ingin membawa satu lensa saja untuk segala kebutuhan. Untuk itu lensa zoom dengan fokal yang dimulai dari wideangle (28mm atau bahkan 24mm) dan berakhir di nilai tele tertentu (misalnya 100mm, 200mm dsb) dianggap sebagai lensa yang ideal, terlepas dari desain aperturenya yang variabel (bukan konstan). Saat ini mulai banyak kamera saku yang bisa menjangkau rentang fokal 24-120mm, atau bahkan kamera superzoom punya lensa yang mengesankan dengan fokal 24-840mm (35x zoom) yang pastinya serba bisa untuk memotret yang dekat sampai sangat jauh sekalipun. 

lensa 15-85
Canon EF S 15-85mm

Pada kamera DSLR, tidak ada lensa yang bisa mengakomodir rentang fokal yang sangat panjang seperti pada kamera superzoom. Hal ini karena desain lensa DSLR lebih spesifik sesuai kebutuhan misalnya wideangle (10-30mm), standard zoom (18-55mm) atau telefoto (70-300mm). Ada beberapa lensa superzoom untuk DSLR seperti 18-200mm atau 18-270mm. Fokal lensa seperti ini memang cocok untuk jalan-jalan, karena akan setara dengan 28-300mm pada kamera film. Namun bila anda ingin satu lensa yang bisa mengakomodir fokal dari 24mm, maka pilihan lensanya tidak banyak. Untuk Nikon DX rekomendasi saya adalah lensa AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 VR DX yang punya kualitas optik yang sangat baik, dengan fokal setara 24-130mm pada kamera film (bila anda pemakai Nikon FX, ada juga lensa seperti AF-S 24-120mm f/4 VR yang tidak mengalami crop factor). Untuk Canon ada lensa EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM yang sama baiknya, yang fokalnya akan setara dengan 24-135mm pada kamera film (bila anda pemakai Canon full frame, ada juga lensa seperti EF 24-105mm f/4 L IS yang tidak mengalami crop factor). Tapi bila anda tidak mengejar fokal wide 24mm, maka pilihan lensa kit murah meriah seperti 18-105mm atau 18-135mm juga cocok untuk dipakai jalan-jalan.

kamera nikon D800

Nikon D800 termasuk kamera DSLR Full Frame kelas menengah, yang posisinya berada dibawah kamera profesional D4 dan diatas kamera D600. Keunggulan utamanya adalah resolusi sensornya yang sudah mencapai 36 MP, jauh melewati resolusi kamera DSLR Full Frame lain yang berkisar antara 12 hingga 22 MP. Saat meluncurkan D800, Nikon juga membuat versi D800E dengan perbedaan modifikasi sensor (meniadakan filter anti aliasing), sehingga D800E hasil fotonya lebih tajam dari kamera digital lainnya. Kali ini D800 akan ditinjau dan diuji kemampuannya, dalam review berikut ini.


Fitur utama :
  • resolusi sensor 36 MP
  • titik fokus 51 AF points (15 diantaranya cross type), sensitif hingga -2EV
  • 91.000 piksel metering sensor
  • full HD video, uncompressed via HDMI
  • prosesor Expeed 3
  • HDR mode

Tinjauan fisik dan tombol

Nikon D800 punya ukuran yang cukup besar, dengan grip yang terasa pas dan mantap saat digenggam. Bodinya berbahan magnesium alloy dan sudah diberi seal kedap cuaca dan debu. Logo FX di bagian depan menunjukkan ukuran sensor full frame 36 x 24 mm dan lensa yang terpasang tidak mengalami crop factor. Kompatibilitas dengan lensa DX (lensa yang dibuat dengan diameter lebih kecil, untuk kamera DSLR sensor APS-C) tetap dipertahankan, sehingga D800 bisa dipasangkan dengan lensa Nikon DX. Untuk itu di kamera perlu memilih DX mode sehingga bidang gambar menjadi lebih kecil dengan resolusi 15 MP.


D800 back 
 
Di bagian belakang tampak jendela bidik optik berukuran besar, dengan coverage 100%. Didalam jendela bidik kita bisa melihat berbagai informasi tambahan seperti titik fokus yang aktif dan virtual horizon. Bila kita ingin menutup jendela bidik, cukup geser tuas kecil di sebelah kiri jendela dan viewfinder akan tertutup. Untuk mengakses live view cukup dengan menekan tombol LV di bagian bawah, dan kini ada tuas yang bisa dipilih apakah ingin live view untuk memotret atau merekam video. Tombol INFO akan menampilkan berbagai info penting di layar LCD 3,2 inci, dan menekan tombol INFO sekali lagi akan masuk ke beberapa pengaturan yang bisa diakses dengan melihat layar LCD.

slot
Kamera Nikon D800 punya dua slot memori, yaitu satu bertipe SD card dan satu lagi adalah CF card. Baterai yang dipakai bertipe EN-EL15 dengan kapasitas 1.900 mAh yang bisa memotret hingga 900 kali. Nikon D800 bisa dipasangkan dengan battery grip opsional. Sebagai konektivitas, tersedia banyak port di sebelah kiri dan depan, seperti GPS, HDMI, USB, microphone dan remote cord. Tersembunyi di bagian bawah (dekat logo FX) ada tuas dan tombol penting untuk fokus, yaitu tuas Auto dan Manual fokus, serta tombol yang bisa dipakai untuk mengganti karakteristik auto fokus Nikon D800. Modul multi-CAM 3500FX yang dipakai di D800 punya 51 titik AF, dengan pilihan titik auto atau manual. Khusus untuk servo kontinyu (AF-C), kita bisa memilih titik fokus yang aktif saat melakukan tracking obyek, seperti 9, 21 dan 51 titik dinamis. Pilihan lain adalah 3D tracking AF yang akan mencari dan mengikuti obyek berdasarkan kemampuan prosesor kamera dalam mengenali warna dan subyek.

Senin, 09 Maret 2015

Kamera Nikon 1 Review

Nikon akhirnya memperkenalkan format kamera mirrorless mereka untuk mengisi gap antara seri Coolpix dan seri DSLR mereka. Format yang diberi nama Nikon 1 ini memakai mount lensa baru bernama CX mount, dengan sensor berukuran 13.2 x 8.8mm alias 2,7x crop factor. Sebagai langkah awal diluncurkan dua tipe kamera yaitu Nikon C1 dan Nikon J1 serta beberapa pilihan lensa seperti 1 Nikkor 10-30mm VR (setara 28-80mm), lensa tele 30-110mm VR (setara 80-300mm), lensa fix 10mm (setara 27mm) dan lensa all-round 10-100mm VR (setara 28-280mm).
Kedua kamera yang baru saja diluncurkan punya spesifikasi yang cukup lumayan, terutama dalam kinerja auto fokusnya yang sangat cepat dengan mengandalkan hybrid AF, yaitu kombinasi antara deteksi kontras dan deteksi fasa. Berikut fitur kedua kamera Nikon J1 dan Nikon V1 :
Nikon J1
  • sensor 10 MP CMOS
  • 73 titik AF
  • prosesor dual core Expeed 3
  • layar 3 inci, 461 ribu piksel
  • ada manual mode dan RAW tapi diakses lewat menu
  • burst 10 fps
  • ISO 100-3200, bisa ditingkatkan sampai ISO 6400
  • lampu kilat dengan Guide Number 5
  • full HD video, audio stereo, H.264
  • baterai EN-EL20, bisa hingga 230 kali jepret

Nikon V1 sama seperti J1 kecuali :
  • bodi berbalut magnesium-alloy
  • resolusi layar 900 ribu piksel
  • ada jendela bidik elektronik dengan resolusi tinggi
  • ada shutter mekanik
  • tidak ada lampu kilat (flashbuilt-in
  • ada input untuk mikrofon stereo
  • baterai EN-EL15, bisa sampai 400 kali jepret

Segitiga Eksposure dalam Fotografi

Dalam fotografi yang menjadi penentu utama adalah eksposur, atau banyaknya cahaya yang terekam saat memotret. Cahaya di alam memiliki rentang intensitas yang beragam, dari yang sangat redup seperti bintang di langit sampai yang sangat terang seperti sinar matahari. Fotografi memerlukan pengaturan eksposur yang tepat sehingga cahaya yang masuk ke kamera bisa diatur sesuai intensitas cahaya yang ada. Kendali untuk eksposur ada tiga, yaitu shutter speed(kecepatan rana), aperture (bukaan diafragma) dan ISO (sensitivitas sensor atau film). Ketiga komponen ini bertanggung jawab terhadap terang gelap foto yang akan dihasilkan, bila foto cenderung gelap disebut juga under eksposur, sebaliknya foto terlalu terang dinamakan over eksposur. 
Untuk mengatur ketiga komponen eksposur, biasanya sudah dilakukan otomatis oleh kamera (bila memakai mode AUTO). Dalam hal ini kamera akan berupaya mencari nilai yang paling tepat sehingga foto yang dihasilkan punya eksposur tepat (tidak terlalu terang atau terlalu gelap). Proses ini dimulai dengan metering (pengukuran cahaya) lalu kamera akan melakukan kalkulasi yang rumit dan memutuskan berapa shutter, aperture dan ISO yang akan dipakai. Kita bisa juga melakukan pengaturan manual bila kamera punya mode manual seperti Aperture Priority, Shutter Priority dan Manual Mode. Hampir semua kamera digital membolehkan kita untuk mengatur secara manual nilai ISO yang diinginkan. 


Shutter  

Komponen shutter speed (kecepatan rana) mengatur durasi atau lamanya eksposur. Untuk mengatur durasi ini, ada komponen dalam kamera yang bernama shutter, yang bertugas membuka dan menutup. Waktu yang dibutuhkan shutter untuk membuka sampai menutup disebut dengan kecepatan rana, dinyatakan dalam detik. Kecepatan rana di kamera umumnya berkisar antara 1/4000 detik (sangat cepat) hingga beberapa detik (sangat lambat). 

Hardware
Hal-hal yang perlu diingat berkaitan dengan shutter speed adalah : 
  • semakin cepat shutter maka cahaya yang direkam akan lebih singkat, sehingga foto akan semakin gelap
  • semakin lambat shutter maka cahaya akan direkam lebih lama, sehingga foto akan semakin terang
  • shutter cepat bisa dipakai untuk membekukan gerakan atau memotret benda yang bergerak cepat
  • shutter lambat bisa dipakai untuk membuat kesan gerakan, namun bila kecepatan yang dipilih terlalu lambat maka kamera perlu dipasang di tripod (untuk mencegah goyang yang menyebabkan foto menjadi blur)
Aperture

Pada setiap lensa ada sebuah komponen bernama aperture, berbentuk lubang yang bisa diatur diameternya, dari yang terbesar hingga terkecil. Bila bukaan diafragma besar maka lensa akan memasukkan lebih banyak cahaya, bila bukaan dibuat lebih kecil maka cahaya yang masuk akan dikurangi. Besar kecilnya bukaan dinyatakan dalam deret f number, dimana bukaan besar punya f number kecil (misal f/1.8 atau f/2.8) dan bukaan kecil punya f number besar (misal f/22 atau f/36).
 
aperture
Aperture
Hal-hal yang perlu diingat berkaitan dengan bukaan diafragma adalah :  
  • semakin besar bukaan maka cahaya yang masuk akan semakin banyak, sehingga foto akan semakin terang
  • semakin kecil bukaan maka cahaya yang masuk akan semakin sedikit, sehingga foto akan semakin gelap
  • bukaan besar akan membuat ruang tajam (depth of field) menjadi semakin sempit, sehingga obyek akan tajam sedang latar belakang akan blur (out of focus)
  • bukaan kecil akan membuat obyek dan latar belakang sama-sama tajam
ISO
 
Sebagai komponen ketiga bisa digunakan sensitivitas sensor atau ISO. Bila dulu jaman fotografi film, kita perlu memilih film dengan ASA tertentu, maka di era digital ini nilai ISO bisa dirubah sesuai kebutuhan. Tiap kamera punya sensor yang ISO-nya bisa dirubah dari paling rendah (ISO dasar) sampai paling tinggi. Semakin tinggi ISO maka sensor semakin sensitif atau peka dalam menangkap cahaya. Rentang ISO di kamera umumnya berkisar dari ISO terendah (ISO 100 atau ISO 200) hingga ISO sangat tinggi (ISO 3200 atau ISO 6400).
 
ISO
ISO Setting
Hal-hal yang perlu diingat berkaitan dengan ISO adalah : 
  • semakin tinggi ISO maka sensor semakin peka terhadap cahaya, sehingga foto akan semakin terang
  • semakin rendah ISO maka sensor semakin tidak peka terhadap cahaya, sehingga foto akan semakin gelap
  • ISO tinggi akan membawa dampak adanya noise berupa bintik-bintik pada foto, akibat sensor yang dipaksa untuk lebih sensitif
  • semakin tinggi ISO maka noise akan semakin banyak, batas yang masih bisa diterima antara kualitas dan noise untuk kamera DSLR adalah ISO 1600
  • ISO bisa dinaikkan bila kondisi pemotretan cenderung kurang cahaya, sementara kita ingin memilih nilai shutter yang tidak terlalu lambat