Selasa, 10 Maret 2015

Istilah Lensa Kamera DSLR

agian paling utama dari sebuah sistem pada kamera adalah lensa. Kualitas hasil foto yang dibuat oleh kamera terlebih dahulu ditentukan oleh faktor lensa yang baik, barulah selebihnya diolah oleh sensor dan sistem prosesor gambar pada kamera. Sayangnya saat seseorang menilai baik tidaknya sebuah kamera, faktor lensa justru jadi unsur yang sering terlewatkan, seakan-akan tiap lensa pada kamera adalah sama saja. Seseorang akan lebih cenderung mengejar resolusi yang tinggi, kemampuan ISO tinggi dan sebagainya daripada mencari tahu seberapa baik lensa yang terdapat pada sebuah kamera. Tidak salah memang, karena resolusi adalah faktor yang bisa mengangkat gengsi sebuah kamera, dan jadi hal pertama yang selalu ditanya oleh setiap orang yang melihat kamera kita. Namun setidaknya, dengan mengenal bagaimana lensa yang baik dan apa saja keterbatasannya, kita bisa lebih mengerti kemampuan dari kamera yang kita miliki.
http://dphotomagazine.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2011/10/Canon-8-15mm-Lens-main-670x423.jpg
Fisheye Lens
Berikut adalah istilah-istilah yang sering digunakan saat kita membahas soal lensa pada kamera :
  • Panjang fokal (focal length) : Menentukan bidang gambar yang dapat diambil oleh kamera. Untuk mengambil bidang gambar yang luas dan lebar, lensa yang digunakan adalah lensa wide (dibawah 35mm). Untuk mendapat gambar dengan sudut pandang normal digunakan lensa normal (sekitar 50mm) dan untuk keperluan mengambil gambar yang jauh diperlukan lensa tele (diatas 100mm). Bila lensa hanya memiliki satu jarak fokal saja disebut lensa fix (tetap), sementara bila fokal lensa bisa berubah disebut lensa zoom. Kemampuan zoom lensa diukur dengan membandingkan tele maksimum terhadap wide maksimum, contoh bila lensa zoom dengan spesifikasi panjang fokal wide 28mm dan tele 280mm, maka disebut dengan lensa zoom 10x (atau 280 dibagi 28). 
  • Kecepatan lensa (lens speed) : Tiap lensa memiliki diafragma yang bertugas mengatur banyaknya cahaya yang bisa melewati lensa. Diafragma bisa membesar dan mengecil sesuai nilai aperture yang ditentukan, dinyatakan dengan nilai f. Untuk memudahkan, ingatlah bahwa bukaan besar memiliki nilai f kecil, dan sebaliknya (bukaan kecil punya nilai f besar). Jadi f/3.5 adalah lebih besar dari f/8. Semakin besar bukaan lensa, semakin banyak cahaya yang bisa dimasukkan melalui lensa, dan memungkinkan pemakaian shutter pada kamera yang semakin cepat. Tiap lensa memiliki bukaan maksimum yang berbeda-beda, bisa amat besar (f/1.4) hingga yang lebih kecil (f/4). Oleh karena itu lensa yang memiliki bukaan besar disebut lensa cepat (bisa memakai shutter cepat) dan lensa yang bukaan labih kecil disebut lensa lambat, karena umumnya sering memaksa kamera memakai shutter yang lebih lambat. 
  • Ketajaman lensa (sharpness) : Menjadi faktor penentu dari hasil foto yang baik, biasanya tidak ada ukuran pasti soal ketajaman, namun dengan melihat hasil uji dari review kamera/lensa terhadap test chart, bisa diketahui ketajaman sebuah lensa. Lensa yang baik idealnya haruslah memberi ketajaman yang seragam pada seluruh bidang gambar, baik di tengah ataupun di tepi/sudut. Demikian pula ketajaman pada lensa zoom, idealnya harus tetap tajam baik pada saat wide atapun saat tele maksimum. 
  • Distorsi lensa (lensa distortion) : Adalah suatu fenomena penyimpangan optik yang tidak bisa dihindari karena lensa akan cenderung membengkokkan bidang gambar yang lurus, utamanya saat posisi wide atau tele. Distorsi saat wide biasa disebut barrel distortion (garis lurus menjadi melengkung keluar) dan disaat tele disebut pincushion (garis lurus menjadi melengkung ke dalam). Namun lensa masa kini telah dilengkapi dengan elemen lensa khusus untuk mengurangi cacat lensa yang mungkin terjadi. Istilah lain yang biasa dipakai dalam menilai lensa adalah vignetting, purple fringing, lens flare, dan bokeh. 
Sedangkan yang ini adalah fakta soal lensa : 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_XS_689rEPygQk2x52WNBOvwLJ872i_6aesVpCzG3zOr_N1AQkZGnwtmSQzbIxRNEjxX8Ljb9em56Mp-KOSaJ5H6ZnS_jtTna2-k3UBXnN5dAyeexNg-XQcNVz7n3QuavCGCvdv5I0zM/s1600/Canon+EF+15mm+f2.8+Fisheye+Lens+for+Canon+SLR+Cameras1.png
Fisheye Lens
 
  • Lensa memiliki banyak elemen di dalamnya. Semakin banyak elemen, jalur lintasan cahaya akan makin rumit dan cenderung menurunkan kualitas dan ketajaman lensa. Maka itu tidak ada dalam sejarah lensa zoom bisa menyamai ketajaman lensa fix, karena banyaknya elemen yang dimiliki sebuah lensa zoom.
  • Lensa wide akan selalu mengalami penyimpangan/distorsi. Untuk itu jangan paksakan memakai lensa wide untuk memotret wajah orang, karena nanti akan tampak bulat dan gendut. Juga hindari memakai lensa wide untuk memotret garis yang lurus. 
  • Ketajaman lensa tidak selalu sama. Ketajaman lensa akan berkurang saat diafragma dibuka maksimal atau dikecilkan minimal (efek difraksi lensa). Lensa zoom pun akan mengalami penurunan ketajaman saat dipakai di posisi tele. Untuk mendapat ketajaman terbaik, gunakan panjang fokal wide hingga normal, dan gunakan nilai diafragma tengah-tengah (sweet spot) sekitar f/5.6 hingga f/8. Bagian tengah lensa selalu lebih tajam dari bagian tepi / sudut. Lensa yang baik memiliki ketajaman yang masih lumayan baik di sudutnya, dan lensa yang buruk akan mengalami penurunan ketajaman yang parah di bagian sudutnya, istilahnya corner bluriness. 
  • Bukaan diafragma maksimal pada lensa zoom bisa berubah. Demi menghindari desain lensa yang rumit, kebanyakan lensa zoom memiliki ciri bukaan diafragma maksimal akan berbeda pada panjang fokal yang berbeda. Perhatikan tulisan pada lensa, contohnya lensa 35-105mm f/2.8-4.5 artinya “pada posisi wide 35mm, bukaan maksimalnya adalah f/2.8, sementara pada posisi tele maksimum 105mm, bukaan maksimalnya turun hingga f/4.5“ 
  • Lensa super zoom banyak mengalami kompromi. Awalnya tidak ada lensa yang memiliki rentang fokal ekstrim, yang bisa mengakomodir kebutuhan sangat wide hingga sangat tele dalam sebuah lensa. Namun kebutuhan pasar dan persaingan antar merk akhirnya menjadikan produsen terpaksa membuat lensa yang serba-bisa (sapujagad) hingga saat ini ada kamera yang lensanya 36x zoom. Lensa semacam ini banyak kompromi terhadap kualitas dan ketajaman, demi memenuhi ambisi mendapat rentang fokal yang panjang.

Lensa sapu jagat Dslr

Banyak pilihan fokal lensa untuk wideangle, namun fokal lensa yang cukup berguna adalah 28mm untuk posisi wide. Kini semakin banyak kamera yang memberi fokal lebih wide dari 28mm, misalnya 24mm. Perubahan 'sedikit' dari 28mm ke 24mm membawa perbedaan besar dalam sudut pandang gambar dan perspektif yang dihasilkan, sehingga lensa 24mm lebih berguna saat kita tidak punya banyak ruang untuk memotret. Untuk kamera DSLR dengan sensor APS-C, karena ada faktor koreksi yaitu crop-factor, maka lensa yang setara dengan fokal 28mm adalah lensa 18mm. 

Travel photography cenderung mengutamakan kepraktisan sehingga adakalanya kita hanya ingin membawa satu lensa saja untuk segala kebutuhan. Untuk itu lensa zoom dengan fokal yang dimulai dari wideangle (28mm atau bahkan 24mm) dan berakhir di nilai tele tertentu (misalnya 100mm, 200mm dsb) dianggap sebagai lensa yang ideal, terlepas dari desain aperturenya yang variabel (bukan konstan). Saat ini mulai banyak kamera saku yang bisa menjangkau rentang fokal 24-120mm, atau bahkan kamera superzoom punya lensa yang mengesankan dengan fokal 24-840mm (35x zoom) yang pastinya serba bisa untuk memotret yang dekat sampai sangat jauh sekalipun. 

lensa 15-85
Canon EF S 15-85mm

Pada kamera DSLR, tidak ada lensa yang bisa mengakomodir rentang fokal yang sangat panjang seperti pada kamera superzoom. Hal ini karena desain lensa DSLR lebih spesifik sesuai kebutuhan misalnya wideangle (10-30mm), standard zoom (18-55mm) atau telefoto (70-300mm). Ada beberapa lensa superzoom untuk DSLR seperti 18-200mm atau 18-270mm. Fokal lensa seperti ini memang cocok untuk jalan-jalan, karena akan setara dengan 28-300mm pada kamera film. Namun bila anda ingin satu lensa yang bisa mengakomodir fokal dari 24mm, maka pilihan lensanya tidak banyak. Untuk Nikon DX rekomendasi saya adalah lensa AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 VR DX yang punya kualitas optik yang sangat baik, dengan fokal setara 24-130mm pada kamera film (bila anda pemakai Nikon FX, ada juga lensa seperti AF-S 24-120mm f/4 VR yang tidak mengalami crop factor). Untuk Canon ada lensa EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM yang sama baiknya, yang fokalnya akan setara dengan 24-135mm pada kamera film (bila anda pemakai Canon full frame, ada juga lensa seperti EF 24-105mm f/4 L IS yang tidak mengalami crop factor). Tapi bila anda tidak mengejar fokal wide 24mm, maka pilihan lensa kit murah meriah seperti 18-105mm atau 18-135mm juga cocok untuk dipakai jalan-jalan.

kamera nikon D800

Nikon D800 termasuk kamera DSLR Full Frame kelas menengah, yang posisinya berada dibawah kamera profesional D4 dan diatas kamera D600. Keunggulan utamanya adalah resolusi sensornya yang sudah mencapai 36 MP, jauh melewati resolusi kamera DSLR Full Frame lain yang berkisar antara 12 hingga 22 MP. Saat meluncurkan D800, Nikon juga membuat versi D800E dengan perbedaan modifikasi sensor (meniadakan filter anti aliasing), sehingga D800E hasil fotonya lebih tajam dari kamera digital lainnya. Kali ini D800 akan ditinjau dan diuji kemampuannya, dalam review berikut ini.


Fitur utama :
  • resolusi sensor 36 MP
  • titik fokus 51 AF points (15 diantaranya cross type), sensitif hingga -2EV
  • 91.000 piksel metering sensor
  • full HD video, uncompressed via HDMI
  • prosesor Expeed 3
  • HDR mode

Tinjauan fisik dan tombol

Nikon D800 punya ukuran yang cukup besar, dengan grip yang terasa pas dan mantap saat digenggam. Bodinya berbahan magnesium alloy dan sudah diberi seal kedap cuaca dan debu. Logo FX di bagian depan menunjukkan ukuran sensor full frame 36 x 24 mm dan lensa yang terpasang tidak mengalami crop factor. Kompatibilitas dengan lensa DX (lensa yang dibuat dengan diameter lebih kecil, untuk kamera DSLR sensor APS-C) tetap dipertahankan, sehingga D800 bisa dipasangkan dengan lensa Nikon DX. Untuk itu di kamera perlu memilih DX mode sehingga bidang gambar menjadi lebih kecil dengan resolusi 15 MP.


D800 back 
 
Di bagian belakang tampak jendela bidik optik berukuran besar, dengan coverage 100%. Didalam jendela bidik kita bisa melihat berbagai informasi tambahan seperti titik fokus yang aktif dan virtual horizon. Bila kita ingin menutup jendela bidik, cukup geser tuas kecil di sebelah kiri jendela dan viewfinder akan tertutup. Untuk mengakses live view cukup dengan menekan tombol LV di bagian bawah, dan kini ada tuas yang bisa dipilih apakah ingin live view untuk memotret atau merekam video. Tombol INFO akan menampilkan berbagai info penting di layar LCD 3,2 inci, dan menekan tombol INFO sekali lagi akan masuk ke beberapa pengaturan yang bisa diakses dengan melihat layar LCD.

slot
Kamera Nikon D800 punya dua slot memori, yaitu satu bertipe SD card dan satu lagi adalah CF card. Baterai yang dipakai bertipe EN-EL15 dengan kapasitas 1.900 mAh yang bisa memotret hingga 900 kali. Nikon D800 bisa dipasangkan dengan battery grip opsional. Sebagai konektivitas, tersedia banyak port di sebelah kiri dan depan, seperti GPS, HDMI, USB, microphone dan remote cord. Tersembunyi di bagian bawah (dekat logo FX) ada tuas dan tombol penting untuk fokus, yaitu tuas Auto dan Manual fokus, serta tombol yang bisa dipakai untuk mengganti karakteristik auto fokus Nikon D800. Modul multi-CAM 3500FX yang dipakai di D800 punya 51 titik AF, dengan pilihan titik auto atau manual. Khusus untuk servo kontinyu (AF-C), kita bisa memilih titik fokus yang aktif saat melakukan tracking obyek, seperti 9, 21 dan 51 titik dinamis. Pilihan lain adalah 3D tracking AF yang akan mencari dan mengikuti obyek berdasarkan kemampuan prosesor kamera dalam mengenali warna dan subyek.

Senin, 09 Maret 2015

Kamera Nikon 1 Review

Nikon akhirnya memperkenalkan format kamera mirrorless mereka untuk mengisi gap antara seri Coolpix dan seri DSLR mereka. Format yang diberi nama Nikon 1 ini memakai mount lensa baru bernama CX mount, dengan sensor berukuran 13.2 x 8.8mm alias 2,7x crop factor. Sebagai langkah awal diluncurkan dua tipe kamera yaitu Nikon C1 dan Nikon J1 serta beberapa pilihan lensa seperti 1 Nikkor 10-30mm VR (setara 28-80mm), lensa tele 30-110mm VR (setara 80-300mm), lensa fix 10mm (setara 27mm) dan lensa all-round 10-100mm VR (setara 28-280mm).
Kedua kamera yang baru saja diluncurkan punya spesifikasi yang cukup lumayan, terutama dalam kinerja auto fokusnya yang sangat cepat dengan mengandalkan hybrid AF, yaitu kombinasi antara deteksi kontras dan deteksi fasa. Berikut fitur kedua kamera Nikon J1 dan Nikon V1 :
Nikon J1
  • sensor 10 MP CMOS
  • 73 titik AF
  • prosesor dual core Expeed 3
  • layar 3 inci, 461 ribu piksel
  • ada manual mode dan RAW tapi diakses lewat menu
  • burst 10 fps
  • ISO 100-3200, bisa ditingkatkan sampai ISO 6400
  • lampu kilat dengan Guide Number 5
  • full HD video, audio stereo, H.264
  • baterai EN-EL20, bisa hingga 230 kali jepret

Nikon V1 sama seperti J1 kecuali :
  • bodi berbalut magnesium-alloy
  • resolusi layar 900 ribu piksel
  • ada jendela bidik elektronik dengan resolusi tinggi
  • ada shutter mekanik
  • tidak ada lampu kilat (flashbuilt-in
  • ada input untuk mikrofon stereo
  • baterai EN-EL15, bisa sampai 400 kali jepret

Segitiga Eksposure dalam Fotografi

Dalam fotografi yang menjadi penentu utama adalah eksposur, atau banyaknya cahaya yang terekam saat memotret. Cahaya di alam memiliki rentang intensitas yang beragam, dari yang sangat redup seperti bintang di langit sampai yang sangat terang seperti sinar matahari. Fotografi memerlukan pengaturan eksposur yang tepat sehingga cahaya yang masuk ke kamera bisa diatur sesuai intensitas cahaya yang ada. Kendali untuk eksposur ada tiga, yaitu shutter speed(kecepatan rana), aperture (bukaan diafragma) dan ISO (sensitivitas sensor atau film). Ketiga komponen ini bertanggung jawab terhadap terang gelap foto yang akan dihasilkan, bila foto cenderung gelap disebut juga under eksposur, sebaliknya foto terlalu terang dinamakan over eksposur. 
Untuk mengatur ketiga komponen eksposur, biasanya sudah dilakukan otomatis oleh kamera (bila memakai mode AUTO). Dalam hal ini kamera akan berupaya mencari nilai yang paling tepat sehingga foto yang dihasilkan punya eksposur tepat (tidak terlalu terang atau terlalu gelap). Proses ini dimulai dengan metering (pengukuran cahaya) lalu kamera akan melakukan kalkulasi yang rumit dan memutuskan berapa shutter, aperture dan ISO yang akan dipakai. Kita bisa juga melakukan pengaturan manual bila kamera punya mode manual seperti Aperture Priority, Shutter Priority dan Manual Mode. Hampir semua kamera digital membolehkan kita untuk mengatur secara manual nilai ISO yang diinginkan. 


Shutter  

Komponen shutter speed (kecepatan rana) mengatur durasi atau lamanya eksposur. Untuk mengatur durasi ini, ada komponen dalam kamera yang bernama shutter, yang bertugas membuka dan menutup. Waktu yang dibutuhkan shutter untuk membuka sampai menutup disebut dengan kecepatan rana, dinyatakan dalam detik. Kecepatan rana di kamera umumnya berkisar antara 1/4000 detik (sangat cepat) hingga beberapa detik (sangat lambat). 

Hardware
Hal-hal yang perlu diingat berkaitan dengan shutter speed adalah : 
  • semakin cepat shutter maka cahaya yang direkam akan lebih singkat, sehingga foto akan semakin gelap
  • semakin lambat shutter maka cahaya akan direkam lebih lama, sehingga foto akan semakin terang
  • shutter cepat bisa dipakai untuk membekukan gerakan atau memotret benda yang bergerak cepat
  • shutter lambat bisa dipakai untuk membuat kesan gerakan, namun bila kecepatan yang dipilih terlalu lambat maka kamera perlu dipasang di tripod (untuk mencegah goyang yang menyebabkan foto menjadi blur)
Aperture

Pada setiap lensa ada sebuah komponen bernama aperture, berbentuk lubang yang bisa diatur diameternya, dari yang terbesar hingga terkecil. Bila bukaan diafragma besar maka lensa akan memasukkan lebih banyak cahaya, bila bukaan dibuat lebih kecil maka cahaya yang masuk akan dikurangi. Besar kecilnya bukaan dinyatakan dalam deret f number, dimana bukaan besar punya f number kecil (misal f/1.8 atau f/2.8) dan bukaan kecil punya f number besar (misal f/22 atau f/36).
 
aperture
Aperture
Hal-hal yang perlu diingat berkaitan dengan bukaan diafragma adalah :  
  • semakin besar bukaan maka cahaya yang masuk akan semakin banyak, sehingga foto akan semakin terang
  • semakin kecil bukaan maka cahaya yang masuk akan semakin sedikit, sehingga foto akan semakin gelap
  • bukaan besar akan membuat ruang tajam (depth of field) menjadi semakin sempit, sehingga obyek akan tajam sedang latar belakang akan blur (out of focus)
  • bukaan kecil akan membuat obyek dan latar belakang sama-sama tajam
ISO
 
Sebagai komponen ketiga bisa digunakan sensitivitas sensor atau ISO. Bila dulu jaman fotografi film, kita perlu memilih film dengan ASA tertentu, maka di era digital ini nilai ISO bisa dirubah sesuai kebutuhan. Tiap kamera punya sensor yang ISO-nya bisa dirubah dari paling rendah (ISO dasar) sampai paling tinggi. Semakin tinggi ISO maka sensor semakin sensitif atau peka dalam menangkap cahaya. Rentang ISO di kamera umumnya berkisar dari ISO terendah (ISO 100 atau ISO 200) hingga ISO sangat tinggi (ISO 3200 atau ISO 6400).
 
ISO
ISO Setting
Hal-hal yang perlu diingat berkaitan dengan ISO adalah : 
  • semakin tinggi ISO maka sensor semakin peka terhadap cahaya, sehingga foto akan semakin terang
  • semakin rendah ISO maka sensor semakin tidak peka terhadap cahaya, sehingga foto akan semakin gelap
  • ISO tinggi akan membawa dampak adanya noise berupa bintik-bintik pada foto, akibat sensor yang dipaksa untuk lebih sensitif
  • semakin tinggi ISO maka noise akan semakin banyak, batas yang masih bisa diterima antara kualitas dan noise untuk kamera DSLR adalah ISO 1600
  • ISO bisa dinaikkan bila kondisi pemotretan cenderung kurang cahaya, sementara kita ingin memilih nilai shutter yang tidak terlalu lambat

Kamera Canon 1Dx

Canon meluncurkan kamera DSLR flagship mereka di tahun ini yaitu EOS-1D Xdengan sensor full frame CMOS 18 MP. Di era sebelumnya, Canon sudah memiliki EOS-1Ds mark III dengan sensor resolusi 21 MP yang cocok untuk dipakai di studio serta EOS-1D mark IV dengan sensor APS-H 16 MP yang disukai fotografer olah raga karena mampu memotret sampai 10 fps. Canon rupanya hendak menghilangkan dualisme ini dan sebagai buktinya EOS-1D X hadir laksana penyatuan 1D dan 1Ds dengan sensor full frame, resolusi tinggi 18 MP dan kinerja cepat 12 fps.

Sensor yang dipakai pada EOS-1D X berjenis full frame dengan 16 channel, dual line readout yang lebih cepat dari sensor sebelumnya yang hanya memakai 8 channel, single line readout. Maka itu tak heran kalau EOS-1D X mampu memotret sampai 12 fps dengan format RAW dan 14 fps untuk JPG.
Canon melengkapi EOS-1D X ini  dengan tiga buah prosesor. Prosesor yang ada di dalam kamera ini terdiri dari sepasang DIGIC 5+ dan sebuah Digic 4. Dua prosesor DIGIC 5+ dimaksudkan untuk mempercepat pengolahan gambar sedangkan satu Digic 4 yang dipakai di kamera ini digunakan khusus 'hanya' untuk kontrol AF dan metering. EOS-1D X juga menyediakan enam preset untuk memilih titik AF  yaitu Spot, Single Point, Single Point with surrounding four points, Single Point with surrounding eight points, Zone selection dan Automatic AF point selection 

fitur andalan lain diantaranya :
  • 61-Point High Density Reticular AF termasuk 41 cross-type titik AF
  • 100,000-pixel RGB metering sensor
  • continuous shooting sampai 14 fps untuk JPEG (dengan mirror diangkat)
  • ISO 100-51.200 (bisa diperluas dari ISO 50 sampai ISO 204.800)
  • dual joystick di bagian belakang
  • full HD dengan kompresi minimum (memory card 16 GB akan penuh hanya dalam waktu 6 menit)
Kamera yang ditujukan untuk para fotografer profesional ini sudah tersedia pada bulan Maret 2012. 

http://photorumors.com/wp-content/uploads/2011/11/Canon-EOS-1Dx-camera.jpg

Pengertian Timelapse dalam Fotografi

Timelapse photography adalah pengembangan dari bidang fotografi yang menjadikan sekumpulan foto yang diambil dalam periode tertentu menjadi sebuah klip video pendek. Periode pemotretan umumnya berdurasi lama, bisa hingga berjam-jam, sedangkan timing pengambilan foto bisa dibuat berkala setiap beberapa detik hingga menit, tergantung kebutuhan. Obyek yang difoto biasanya adalah obyek yang punya gerakan sangat lambat, seperti gerakan awan, matahari, bulan, bintang dan sebagainya. Meski begitu timelapse boleh juga dipakai untuk merekam gerakan yang lebih cepat seperti manusia yang berjalan, meski nanti hasilnya gerakan manusia itu akan tampak sangat cepat.
 
Tujuan dari timelapse photography pada awalnya adalah untuk kebutuhan penelitian, dimana gerakan yang sangat lambat direkam dan ditampilkan dalam laju yang dipercepat untuk diamati gerakannya (hal yang berkebalikan dengan slow motion video). Untuk gerakan yang amat sangat lambat bahkan timelapsebisa dibuat periodik dalam hitungan menit (bukan detik), misal untuk mempelajari pertumbuhan tanaman / bunga, peneliti memotret setiap 15 menit selama berhari-hari. Kini timelapse menjadi lebih mudah karena sudah didukung oleh peralatan fotografi modern dan banyak contoh yang menginspirasi para fotografer untuk membuat konsep serupa. Tentu saja tantangan yang lebih sulit adalah menemukan ide apa yang mau difoto, berapa lama durasinya dan barulah memikirkan teknis fotografinya.
 
timelapse
Time-lapse
 
 
Timelapse photography perlu juga mengenal patokan frame rate video yang baku, yaitu 24 fps. Sehingga kita harus paham kalau kita memotret timelapse setiap 1 detik dan mengambil sebanyak 24 foto maka saat dimainkan dalam bentuk video klip, durasinya hanya 1 detik saja. Frame rate video 24 fps dijadikan standar minimal untuk sebuah tayangan video dianggap punya gerakan yang mulus dan tidak terkesan patah-patah. Jadi asumsikan kita ingin menggabungkan foto-foto timelapse kedalam klip video yang mulus, maka jadikan 24 fps ini sebagai patokan awal dalam menghitung durasi dan periode pemotretan, meski boleh saja memilih frame rate 15 atau 20 fps bila mau.
intervalometer
Intervalometer
 
 
Cara mudah mencoba tekniktimelapse adalah dengan memakai fitur di kamera yang bernama interval shooting, atau bila di kamera tidak ada fitur itu bisa membeli alat bernama intervalometer. Tinggal tentukan di kamera parameter yang kita mau seperti setiap berapa detik kamera akan mengambil foto, dan berapa foto yang mau diambil. Misal kita akan ambil foto setiap 10 detik (atau setara dengan 6 foto per menit) maka bila kita ingin memotret selama 60 menit, maka di kamera kita perlu set jumlah fotonya adalah 360 frame. Tapi yang perlu diingat, dengan foto sebanyak itu dan yang diambil selama 1 jam, kalau dijadikan klip video 24 fps ternyata hanya akan jadi video berdurasi 15 detik saja. Untuk itu perhitungan yang matang diperlukan sebelum mencoba teknik timelapse ini.
 
Untuk teknis dan prosedur pemotretan timelapse sebenarnya cukup standar seperti memakai mode manual (termasuk manual ISO dan WB), memakai tripod dan karena kamera akan terus hidup selama periode pemotretan, pastikan baterai mampu bertahan (bisa dengan battery grip atau pake listrik kalau memungkinkan). Setting file cukup pakai JPG dan resolusi rendah saja untuk memudahkan proses konversi ke video. Program merubah sekumpulan foto menjadi video juga sudah banyak tersedia seperti Quick Time Pro atau bisa juga dijadikan animated GIF bila fotonya berukuran kecil.

Kamera DSLR Canon 1100 D Review

Canon EOS 1100D adalah penerus dari EOS 1000D mengalami sejumlah peningkatan seperti resolusi sensor, jumlah titik AF, modul metering, prosesor dan yang terpenting adalah adanya fitur HD movie. Beberapa fitur dari 1100D pun bahkan menyamai fitur dari 550D/600D sehingga banyak yang bertanya apakah 1100D ini sudah cukup handal untuk dipakai sebagai ’senjata’ para fotografer.
http://cdn.cnet.com.au/story_media/339308984/Canon_1.jpg
Canon EOS 1100D
Sebelumnya mari kita simak apa yang ditawarkan oleh DSLR basic ini :
  • sensor CMOS 12 MP
  • prosesor Digic IV
  • kemampuan merekam HD movie 720p
  • kemampuan metering dengan 63 zone (fokus, warna dan luminance)
  • memakai modul AF dengan 9 titik (satu yang ditengah cross type)
  • mencapai ISO 6400
  • kecepatan burst 3 fps
  • LCD 2,7 inci dengan resolusi 230 ribu piksel
  • HDMI out
  • dijual bersama lensa kit 18-55mm IS mark II
Bila dibanding dengan EOS 600D, maka perbedaannya hanya di megapiksel (12 MP vs 18 MP), resolusi HD video (720p vx 1080p) dan sedikit lebih cepat (3 fps vs 3,7 fps). Selain itu 600D punya layar LCD resolusi tinggi yang bisa dilipat dan bisa mentrigger lampu kilat eksternal secara wireless. Namun keduanya sama dalam hal desain (termasuk pentamirror dan bodi plastik), modul AF 9 titik, modul metering 63 zone (yang persis sama seperti di EOS 7D) dan ISO 6400.
Tinjauan fisik
Kita mulai saja. Bodi EOS 1100D terbuat dari bahan plastik dengan tekstur yang terlalu halus tanpa tekstur, agak terkesan murahan. Gripnya pun akan terasa relatif kecil bagi orang yang bertangan besar. Desain secara umum 1100D memang tipikal Canon EOS pemula dengan bagian atas terdapat tombol ON-OFF, satu roda putar untuk mengatur eksposur, satu mode dial dan satu tombol untuk menyalakan flash. Semuanya terkonsentrasi di sebelah kanan sehingga mudah dijangkau jari telunjuk kanan Flash hot shoe berada di tengah dan diapit oleh built-in flash yang sudah mendukung E TTL-II.
http://static.trustedreviews.com/94/ba6143/f4e3/IMG-1254s.jpg
Canon EOS 1100D
Pada bagian depan terdapat mount untuk tempat memasang lensa, dengan dua titik indikator berwarna putih (untuk lensa EF-S) dan merah (untuk lensa EF). Tidak ada sistem pembersih debu otomatis di EOS 1100D, untuk membersihkan debu anda perlu masuk ke menu untuk mengangkat cermin dan membersihkan debu secara manual. Di sebelah mount lensa ada lampu untuk mengurangi mata merah akibat kena cahaya lampu kilat, dan sebuah microphone mono diatas logo EOS 1100D yang berfungsi untuk merekam suara saat mode movie.
1100D back
Back Side
Pada bagian belakang, tempat dimana berbagai tombol penting dan layar LCD, tertata dengan cukup apik. Pada EOS 1100D terdapat tombol penting untuk mengakses menu cepat yaitu tombol ‘Q’ (Quick Menu) dan ada juga tombol dengan titik merah untuk Live view (yang juga berfungsi untuk memulai dan mengakhiri perekaman video). Jendela bidik optik pada EOS 1100D punya cakupan 95% dan pembesaran 0,8 kali, tentu saja bukan yang terbaik namun cukup terang untuk dilihat. Terdapat roda kecil pengatur diopter untuk menyesuaikan fokus jendela bidik bagi mereka yang berkaca mata. Sayangnya tidak ada sensor yang mendeteksi saat kita mengintip di jendela bidik, sehingga LCD akan tetap menyala saat mata kita menempel di jendela. Penempatan baterai LP-E10 dan memory card terdapat di bagian bawah dengan pintu yang sama, sementara pintu samping bila dibuka akan menampakkan port untuk remote, port HDMI dan port USB, namun tidak ada port untuk menghubungkan mic eksternal.
EOS 1100D dibekali dengan lensa kit EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS. Lensa denganmount plastik ini punya diameter filter 58mm dan sudah dilengkapi dengan peredam getar (stabilizer). Pada bagian kiri terdapat dua tuas, yaitu tuas Auto atau Manual fokus (AF-MF) dan satu lagi tuas untuk mengaktifkan stabilizer. Akibat sensor APS-C dengan crop factor 1,6x maka lensa kit ini akan memiliki fokal setara dengan 29-88mm yang sudah mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Ring manual fokus terdapat di paling depan lensa dan ikut berputar saat kamera mencari fokus, tipikal lensa kit murah meriah pada umumnya, singkat kata lensa ini tidak nyaman dipakai untuk manual fokus.

Memahami Eksposure

  1. ISO – ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya
  2. Aperture – seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil
  3. Shutter Speed – rentang waktu “jendela’ didepan sensor kamera terbuka
Interaksi ketiga elemen inilah yang disebut eksposur.  Perubahan dalam salah satu elemen akan mengakibatkan perubahan dalam elemen lainnya.
Perumpamaan Segitiga Eksposur
Mungkin jalan yang paling mudah dalam memahami eksposur adalah dengan memberikan sebuah perumpamaan. Dalam hal ini saya menyukai perumpamaan segitiga eksposur seperti halnya sebuah keran air. 

  • Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran.
  • Aperture adalah  seberapa lebar kita membuka keran.
  • ISO adalah kuatnya dorongan air dari PDAM.
  • Sementara air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima sensor kamera.
Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya. sebagaimana anda lihat, kalau exposure adalah jumlah air yang keluar dari keran, berarti kita bisa mengubah nilai exposure dengan mengubah salah satu atau kombinasi ketiga elemen penyusunnya. Anda mengubah shutter speed, berarti mengubah berapa lama keran air terbuka. Mengubah aperture berarti mengubah seberapa besar debit airnya, sementara mengubah seberapa kuat dorongan air dari sumbernya.

Tips Foto Bokeh

1. Gunakan aperture besar.

Bokeh berasal dari lensa bukan dari kamera. Oleh karena itu, hal terpenting yang harus dilakukan adalah setting aperture lensa anda pada bukaan yang besar (terbesar yang diijinkan situasi pemotretan – aperture maksimal). Anda bisa melakukannya dengan menggunakan mode Aperture Priority dan mengubah fkedalam nilai terkecil (putar ring aperture berlawanan arah jarum jam).
Dalam settingan ini secara praktis kita menurunkan depth of field menjadishallow/dangkal.

2. Kurangi jarak antara kamera dengan obyek foto.

Semakin dekat kita berdiri dari obyek foto, semakin blur background-nya. Semakin dekat obyek foto, fokus lensa juga semakin dekat dan depth of field akan makin menyempit. Cobalah lakukan ini: acungkan jari telunjuk anda didekat gelas yang jauhnya kira-kira 50 cm didepan anda, fokuskan mata anda pada telunjuk, sekarang gerakkan telunjuk tadi mendekat mata anda. Makin dekat telunjuk dengan mata, gelas dibelakangnya akan makin kabur bukan?

3. Jauhkan jarak antara obyek dan background-nya.

Saat anda memotret teman dan ingin menghasilkan bokeh yang bagus, maka semakin jauh teman tadi dari background dibelakangnya, semakin bagus bokeh yang anda dapatkan. Lihatlah foto dibawah ini, daun yang paling dekat kamera masih terlihat tajam. Tapi semakin menjauh dari kamera, semakin kabur. Sementara daun dengan warna hijau dibelakang sana terlihat kabur sekali.


4. Gunakan focal length terpanjang.

Saat anda memakai lensa zoom, gunakan focal length terpanjang untuk makin memisahkan obyek utama dengan background-nya. Sebagai contoh: saat anda menggunakan lensa maut 70–200 mm, set focal length di posisi 200mm untuk menghasilkan bokeh yang bagus.
Kalau di tas anda tersimpan lensa 300mm, lensa 18–200mm, lensa 14–24mm, pilihlah lensa terpanjang (300mm) kalau tujuan anda menghasilkamn foto bokeh yang maut.

5. Pilih lensa dengan kualitas optik terbaik yang mampu anda beli.

Kualitas bokeh juga sangat dipengaruhi oleh kualitas optik lensa yang kita pakai. Katakanlah anda memilik dua lensa yang focal length maksimalnya sama, contoh: lensa 18–20mm/f5.6 dan lensa 70–200mm/f2.8, karena kualitas optik lensa 70–200mm (biasanya) jauh lebih superior dibandingkan lensa 18–200mm (sehingga harganya juga berlipat-lipat lebih mahal). Maka gunakan lensa 70–200mm tadi, dan sebisa mungkin pakailah di aperture f/2.8. Pastikan anda membaca review sebelum anda membeli lensa.

6. Gunakan lensa prime

Karena makin besar aperture makin bagus pula bokehnya, jika anda memiliki lensa prime, pakailah. Lensa prime atau prime lens atau fixed lens, adalah lensa yang memiliki focal length tunggal alias lensa yang tidak bisa di-zoom. Lensa prime biasanya menghasilkan foto bokeh yang sangat bagus karena memilki bukaan aperture yang sangat besar, tipikal lensa prme adalah 50mm f/1.4, 85mm f/1.4 atau varian murahnya 50mm f/1.8 dan 85mm f/1.8. Nah selamat menghasilkan foto dengan bokeh yang dahsyat.

Diafragma dan Kedalaman Ruang (Depth of Field)


Jangan heran jika melihat angka-angka ini f/2.8, f/4, f/5.6, f/8, f/11, f/16, f/22 dan seterusnya. Ini adalah angka-angka yang mewakili besar-kecilnya diafragma.
Yang perlu diingat adalah f/2.8 lebih besar daripada f/16. Bergerak dari f/2.8 ke f/4 akan mengurangi cahaya satu f-stop. Urutan diafragma yang di highlight diatas adalah urutan standar dalam satu f-stop.
Yang sering membingungkan pemula adalah nilai angka yang kecil seperti f/2.8 ternyata adalah bukaan yang besar (dimana cahaya yang masuk lebih banyak). Ingat ini, f/2.8 adalah bukaan besar dan f/22 adalah bukaan kecil. Mungkin terdengar aneh, tapi lama kelamaan kita akan terbiasa.
Diafragma adalah salah satu hal yang bisa membuat foto berdimensi. Berkat diafragma, foto-foto ajaib bisa dihasilkan. 


f/2.8
Diafragma menentukan dimensi foto kita. Lebih tepatnya adalah pengaturan kedalaman ruang atau Depth of field (DOF). Diafragma akan berpengaruh langsung ke DOF.
Diafragma yang besar (f/2.8) akan membuat DOF semakin tipis, diafragma ini sering digunakan untuk portrait photography. Karena dapat mengisolasi objek dengan background. Jika anda melihat foto portrait dengan background yang blur, maka dapat dipastikan sang fotografer menggunakan diafragma besar.

f/22
Lain halnya dengan fotografi landscape, fotografer memerlukan DOF yang lebar. Dari objek yang terdekat dengan kamera hingga kejauhan sebisa mungkin fokus. Inilah saatnya kita menggunakan diafragma yang kecil (f/22). Kita juga bisa mengaplikasikan prinsip hyperfocal distance, yang akan dibahas pada postingan selanjutnya. Untuk lebih memahami tentang diafragma, hal yang paling utama dilakukan adalah melakukan eksperimen sendiri. Gunakan diafragma secara kreatif, mungkin anda ingin mencoba memotret landscape dengan f/1.8 ? Tidak masalah!

Tips Foto Black And White

1. Gunakan RAW

Mungkin tidak semua kamera mempunyai fasiltas untuk memotret RAW, atau mungkin tidak suka karena RAW sangat merepotkan dalam hal post processing-nya.
Tetapi untuk memaksimalkan kontrol saat konversi dari warna ke hitam-putih, lebih baik gunakan RAW. Karena file RAW memiliki fleksibilitas lebih tinggi dan toleransi yang lebih baik.
Tentu saja tidak masalah menggunakan JPEG, ini sebuah pilihan. Tetapi cobalah sesekali menggunakan RAW, anda mungkin tidak ingin kembali menggunakan JPEG.

 2. Jangan gunakan mode hitam-putih dalam kamera

Ya, memotretlah dalam mode warna. Karena jika begitu, anda mendapatkan file berwarna dan juga file hitam putih setelah di proses. Mode BW di dalam kamera tidak menawarkan banyak pilihan.

Tips : Saat menggunakan mode RAW dan BW bersamaan dalam kamera, tampilan di LCD kamera tentu hitam putih, tetapi sebenarnya tidak berpengaruh pada file RAW (tetap berwarna). Terlebih jika menggunakan RAW + JPEG. Anda mendapatkan fleksibilitas ekstra!
  

3. ISO rendah

Tidak hanya dalam memotret hitam-putih. Selalu gunakan ISO terendah kecuali anda ingin mendapakan shuter speed yang tinggi, ataupun efek grain dengan sengaja.
Konversi ke hitam putih akan memunculkan banyak noise dan artifak, maka lebih baik kita mulai dalam ISO rendah agar kualitas maksimal.