Senin, 19 Januari 2015

Teknik Rembrandt dalam Pencahayaan

Teknik Rembrandt lighting diperoleh dengan menggabungkan pencahayaan pendek dan Butterfly Lighting. Lampu utama diposisikan tinggi dan di sisi wajah yang jauh dari kamera. Teknik ini menghasilkan segitiga yang diterangi di pipi paling dekat dengan kamera. Segitiga yang diterangi hanya di bawah mata dan tidak di bawah hidung.

Cahaya yang seperti apa yang diharapkan dalam sebuah pemotretan sebetulnya sangat bergantung pada kesan apa yang ingin ditimbulkan dan bagaimana komposisi yang diharapkan dari cahaya dan bayangan dalam foto.

Untuk awal, yang harus diperhatikan dari cahaya adalah:


  1. Intensitas, seberapa kuat cahaya tersebut. Cahaya yang sangat kuat akan menimbulkan bayangan yang jelas (harsh) sedangkan cahaya yang lemah akan menimbulkan bayangan yang lembut (soft). Pada pemotretan di luar ruang, cahaya alami (matahari) akan tersedia sejak terbit matahari (skitar 05.00) hingga senja (sekitar 18.00), adapun cahaya dengan intensitas tinggi akan diperoleh pada 09.00-15.00.
  2. Arah datang cahaya, ini akan berpenguh pada metering dan komposisi hilight & shadow pada obyek. Arah datang cahaya secara jelas akan mempengaruhi arah dan ukuran bayangan. Pada pemotretan model, arah datangnya cahaya juga memperngaruhi ekspresi model.
  3. Spektrum, atau banyaknya ‘warna’ yang terkandung dalam cahaya. Cahaya matahari yang berwarna putih kekuningan sebetulnya merupakan gabungan dari banyak spektrum warna, beberapa di antaranya mungkin anda ingat sebagai jajaran warna pelangi mejikuhibniu, tapi sebetulnya spektrum cahaya matahari lebih luas dari itu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar